KEBUTUHAN MANUSIA MENURUT PERSPEKTIF ASY-SYĀṬIBῙ DAN ABRAHAM MASLOW

Authors

  • Husni Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Nahdlatul Ulama Aceh Author

DOI:

https://doi.org/10.55721/rajwtm53

Keywords:

kebutuhan manusia, maqasid syari'ah, maslahat

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menemukan persamaan dan perbedaan serta relevansi teori kebutuhan manusia menurut asy-Syāṭibī dan Abraham Maslow. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan jenis studi kepustakaan. Teori yang digunakan adalah teori maslahat dengan pendekatan perbandingan. Data yang digunakan adalah data sekunder berupa buku-buku yang ditulis langsung  oleh  asy-Syāṭibī  dan  Abraham  Maslow.  Penelitian  ini  menemukan bahwa teori asy-Syāṭibī dengan rentang waktu kemunculan yang terpaut jauh dari teori Maslow masih memiliki relevansi yang signifikan dengan teori kebutuhan Maslow.  Teori  asy-Syāṭibī  memiliki  keunggulan  karena  bersifat  inklusif  untuk menerima perubahan kebutuhan manusia di masa mendatang sebagai akibat kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebaliknya teori Maslow bersifat terbatas dan tertutup sehingga jika suatu saat muncul kebutuhan baru, selain dari lima hieararki kebutuhan yang telah diungkapkan maka kebutuhan baru itu perlu dibuatkan hierarki baru karena tidak cocok untuk dimasukkan ke dalam salah satu dari hierarki yang ada, sebab hierarki yang ada bersifat tertutup dan terbatas. Meski demikian, teori asy-Syāṭibī memengenai kebutuhan manusia masih bersifat implisit, belum eksplisit seperti teori Abraham Maslow. Hal inilah yang menjadi titik  lemah teori  asy-Syāṭibī  jika  dibandingkan dengan  teori  Abraham Maslow disamping asy-Syāṭibī  belum mengungkap  kebutuhan manusia  modern seperti kebutuhan akan penghargaan dan kebutuhan aktualisasi diri ke dalam hieararki maqāid al-syarīah yang ia susun.

Downloads

Download data is not yet available.

Downloads

Published

2024-12-03